Sebut saja si Fulan. Sebagai petani sukses, malam itu ia mengumpulkan beberapa karibnya di desa. Ia mengundang untuk malakukan pesta panen, syukuran, karena besok pagi rencananya akan memanen padinya berhektar-hektar. Malam itu suasana sangat rame menyenangkan.Sudah terbayang, besok pagi akan meraup penghasilan panen yang dinanti-nantikan.
Tapi apa yang terjadi, malam itu tiba-tiba mulai mendung. Tambah lama, mendung itu tambah gelap. Hujan turun disertai angin yang sangat hebat....Semua orang ketakutan.
Singkat cerita, angin ribut dan hujan itu memporak-porandakan seluruh padi yang akan dipanen. Banjir berhari-hari tidak kunjung surut, menjadikan padi sebagian besar rusak dan membusuk.
Tidak berhenti disitu. Pagi itu ia berpesan kepada anaknya yang masih duduk di bangku sekolah SMP di pinggiran kota, agar berhati-hati di jalan ketika berangkat ke sekolah. Anaknya memang penurut. Ia pun berhati-hati berjalan menuju sekolah, sesuai dengan pesan bapaknya. Namun apa yang terjadi, seorang sopir truk sedang mengantuk, dan menabraknya sehingga jadilah ia meninggal seketika.
Sobat, Anda bisa merasakan, bagaimana perasaan si Fulan tadi ? panen yang di depan mata, tiba-tiba begitu saja musnah. Anak semata wayangnya, yang sangat dicintai meninggal tiba-tiba pula tidak lama -sebelum pulih- rasa dukanya ?
Allaahu Akbar ! Allah Maha besar. Allaahu rahiim. Allah maha kasih.
Kalau itu terjadi pada diri kita, apa yang mau kita lakukan ? bersedih, putus asa lalu bunuh diri ?
Atau kita melemparkan kesalahan kepada Allah, Sang pemilik kehidupan ini, sambil menuduhnya tidak adil ?
Sobat, banyak sekali kejadian-kejadian serupa seperti itu.
Mari kita lihat dari kaca mata Hukum Sebab Akibat..!
Hukum sebab-akibat, banyak sekali dijadikan patokan sebagian besar motivator, inspirator, coach. Hukum ini mengatakan, bahwa 'siapa yang menanam, akan memanen'. Maka hukum ini juga dinamakan hukum pertanian oleh Stephen Covey. Dan Covey menamakannya sebagai 'Prinsip', yang nggak bisa ditabrak. Barang siapa yang menabraknya pasti akan terkapar dan kalah.
Hukum ini bisa dipakai untuk meniti kesuksesan. Dengan melakukan sebab-sebab yang baik,maka ia akan menerima akibat-akibatnya yang baik pula. Barang siapa yang ingin mendapatkan akibat yang baik, maka ia harus melakukan sebab-sebab yang menjadikannya. Barangsiapa yang ingin sukses, maka ia harus melakukan sebab-aebabnya sukses. Misalnya : belajar, bersilaturrahmi, bermental baja dst.
Berdasarkan hukum ini, maka bisa dipastikan kesuksesan seseorang. Bahkan ada coach yang memastikannya, bahwa 100 % kesuksesan kita adalah berdasarkan hukum sebab-akibat yang kita gunakan.
Persoalannya adalah, kita tidak memahami seluruh hukum alam atau hukum sebab-akibat ini. Seberapa tahu kita tentang hukum sebab-akibat ini ? berapa banyaknya ? bukankah masih banyak hukum alam yang belum diungkap ?
Apakah hukum yang sudah diungkap oleh para ilmuwan ini sudah benar tepat 100 % ? Bukankah hukum alam yang sudah ditemukan menurut suatu penelitian, ternyata belakangan nggak berlaku lagi, sudah out of date ?
Mari kita kembali pada peristiwa yang diceritakan di atas. Secara Hukum Sebab-Akibat, si Fulan sudah melakukannya. Ia bersyukur, besok pagi akan mulai panen padi. Ia pun mengingatkan anaknya, agar berhati-hati ketika berangkat sekolah. Anaknya pun juga menuruti apa kata ayahnya. Namun apa yang terjadi ?
Inilah yang perlu kita ketahui dan sadari. Kita hidup di jagad raya yang dilingkupi oleh hukum alam --sebab-akibat-- yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan! Tidak semuanya ada dalam kendali kita.
Hiya, memang benar, semua ini ada sebab dan akibatnya. Kenapa terjadi hujan yang lebat, ada sebabnya. Kenapa sopir truk ngantuk dan nabrak, juga ada sebabnya. Tapi semua sebab tersebut ada di luar kendali kita. Hayo siapa yang bisa menunda Tsunami ? mengalihkan Tsunami ? atau bahkan menyetop tsunami ?
Sobat, manusia ini kecil. Ia berada pada makrokosmos. Jagad raya. Semua isi jagad raya ini tunduk pada hukum alam yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Itulah yang disebut Sunnatullah.
Maka kita harus memahami fenomena ini. Mau sukses, harus tahu hukum sebab-akibat di luar kendali kita ini. Dengan demikian, kita akan bisa menerima kejadian-demi kejadian dalam hidup kita yang terjadi di luar keinginan kita. Inilah mengapa, agama mengajarkan adanya Tawakkal. Bahkan tawakkal harus lebih dulu ada, sebelum ikhtiar. Tawakkal adalah bentuk penyerahan diri sepenuhnya akan diri ini, kejadian-kejadian hidup ini. 'Baik' dan 'buruknya' adalah dari Allah swt.
Ajaib bagi seorang mukmin itu. Apa pun yang terjadi pada diri seorang mukmin, senantiasa berbuah kebaikan. Jika ia ditimpa musibah, maka ia bersabar. Dan itu baik baginya. Jika ia mendapatkan anugerah, ia bersyukur. Dan itupun baik baginya.
Jadi, sadarilah wahai sobat, bahwa untuk sukses itu, kita harus tahu posisi Ujian Hidup, Ikhtiar dan Tawakkal. Tidak jarang, kita menemui peristiwa-peristiwa di luar perhitungan kita, karena ketidak-tahuan kita. Kita disetir oleh peristiwa itu.Bukan kita menyetirnya.
Kembali lagi pada cerita tentang si Fulan di atas. Apakah dunia ini sudah kiamat bagi si Fulan dengan ujian hidup yang dihadapinya ?
Jawabannya sangat tergantung. Jika Si Fulan memahami konsep ujian dalam hidup di antara ikhtiar dan tawakkal, maka ia pasti mempunyai sikap yang berbeda dibanding dengan yang belum memahaminya.. Persoalannya bukan pada apa yang terjadi, namun pada apa yang dilakukannya terhadap apa yang terjadi pada si Fulan..
Apakah Anda seperti si Fulan yang kuat ?
Ini persoalan spiritual. Bukan lagi persoalan logika hukum sebab-akibat yang dipahami manusia.
Marilah kita menyatu dengan fenomena ini. Insyaallah sangat membantu kita dalam meniti jalan kesuksesan. amiin.
Para Rasulullah pun banyak mendapat batu ujian dalam kehidupannya. Lihatlah sobat, kehidupan Nabi Muhammad saw. Beliau sejak dalam kandungan sudah ditinggal wafat ayahanda. Usia 4 tahun ditinggal wafat ibunda. Belum genap baligh sudah ditinggal kakek tercinta dan seterusnya. Semakin tinggi tigkatan seseorang, semakin tinggi pula tingkat ujiannya.
Ya, memang, kenaikan kelas, senantiasa didahului denagan tes kenaikan kelas.
Siapkah kita menghadapi ujian yang bertingkat-tingkat ?
Salam GreatLife !
Ingin menjadi teman saya?
Follow saya di twitter: @taufiqniq
Add saya di Facebook :www.facebook.com/Taufiq.NIQ



0 comments:
Post a Comment