Akhir-akhir ini kita dilanda demam, gara-gara virus bergentayangan yang menyerang. 'Virus' itu bernama entrepreneurship. 'Demam' itu bernama demam menjadi Entrepreneur. 'Virus' dan 'demam' ini begitu 'mewabah', menjangkiti siapa saja yang ditemuinya. Ada remaja, pemuda, dewasa, wanita, ibu rumah tangga, pensiuanan bahkan anak-anak. Orang desa, kota, pinggiran, berpendidikan maupun putus sekolah.
Ada banyak cara 'virus' ini berpindah dan menjangkit. Mulai sekedar cangkrukan di gardu, cangkrukan di internet (milist), sampai sekolah, seminar, workshop dan coach. Mulai dari yang sifatnya motivasi, inspirasi, bahkan langsung aksi.
Virus itu beberapa diantaranya berupa jargon-jargon tentang sukses. Jargonnya pun bermacam-macam. Bahkan jargon itu ditulis menjadi buku-buku yang bisa kita nikmati di toko-toko buku. Kita bisa sekedar membacanya atau membelinya. Jumlahnya ratusan, ditulis oleh mulai para akademisi maupun praktisi. Mulai yang bersifat paradigmatis maupun praktis. Saya pun mengumpulkan buku-buku ini satu persatu. Dan sekarang jumlahnya sudah banyak.
Komunitas-komunitas bisnis dan pengusaha pun bermunculan. Ada yang sifatnya kedaerahan, kebangsaan, bahkan sampai yang sifatnya spiritual.
Apapun cara virus ini menular, kita harus tahu akibat dari terserang virus tersebut.
Virus ini menyebabkan orang berubah keyakinan. Virus ini menyebabkan orang berubah keinginan. Bahkan virus ini menyebabkan orang menjadi 'gila'. Gila menjadi pengusaha, lalu begitu saja pingin cepat pensiun dan akhirnya mereka memutuskan untuk resign dari perusahaan tempat mereka berkerja, padahal bisnis belum jalan.
Kegilaan yang diakibatkan oleh virus ini menyebabkan lahirnya pengangguran baru. Orang-orang bangkrut baru, karena mereka punya semangat ingin sukses cepat. Mereka menamakan diri jadi pengusaha, tapi segera mereka berguguran. Ada yang masih bertahan jadi pengusaha, namun tidak sedikit yang dengan malu-malu kembali lagi menjadi karyawan.
Nah disinilah saya ingin memberi catatan....
Menjadi Pengusaha, tidak cukup hanya Semangat san Inspirasi
Saya punya contoh sederhana. Lagi-lagi, sebut saja si Fulan. Ia membuka toko di desanya dibantu oleh istrinya. Singkat cerita, toko itu laris-manis. Memang di daerah itu, toko kebutuhan sehari-hari sangatlah jarang. Pembeli tidak hanya datang dari desa itu, namun berdatanagan pula dari desa-desa sebelah. Benar-benar laris dan tambah kaya. Orang menyebut, Fulan sukses.
Melihat fenomena itu, banyak orang kepincut, ingin menirunya. Mulailah berdiri toko baru. satu, dua, tiga toko berdiri menjadi pesaing. Pesaing baru ini ingin juga sukses. Maka mereka melakukan jurus-jurus untuk menciptakan pelanggan. Pada saat yang sama, di tetangga desa juga mulai berdiri toko-toko baru, yang menjadikan orang-orang di desa masing-masing berbelanja lebih dekat.
Apa yang terjadi...?
Pembeli di toko si Fulan menjadi surut. Padahal ia 'terlanjur' mempunyai biaya operasional tinggi, mengangkat pelayan toko, beberapa jumlahnya. Pendapatan berkurang. Profit pun sudah tentu berkurang.
Lama-lama ia digerogoti biaya opersional. Ia ingin bangkit. Maka ia menggunakan jurus jual murah, margin tipis. Ternyata jurus ini juga belum mampu menambah profit dalam rangka mempertahankan kebesaran tokonya. Jaman telah berubah. Konstalasi berubah. Jurus-jurus yang dulu telah dilakukan sekarang tidak manjur lagi...
Ia tidak bisa mengulangi lagi kesuksesannya. Ketika ia ditanya, apa dulu 'kunci sukses' membangun toko dan usahanya ? Ia kebingungan tidak bisa menjawabnya. Memang,fenomena si fulan ini adalah fenomena Sukses Kebetulan.
Sudah lama, saya menjadi dosen entrepreneur. Sudah belasan tahun, sejak virus-virus ini masih sepi. Saya pun mempunyai pengalaman menularkan virus ini kepada mahasiswa/i saya. Rasanya nano-nano. Manis, asam, pahit getir, mengajari dan mendampingi mereka. Saya pun pernah ditipu oleh mahasiswa saya sendiri, yang gila karena terjangkit virus ini. Ternyata, menjadi pengusaha itu tidak cukup hanya dimotivasi saja. Tidak cukup hanya diinspirasi saja. (ini kan tipe otak kanan : emosi dan intuisi). Lebih dari itu membangun bisnis harus sampai pada penemuan formula bisnis kita. Formula produksi, formula pemasaran, keuangan dan sumberdaya manusia. Formula-formula ini harus kita pegang menjadi standar operasional prosedur, sehingga kita tahu bila suatu ketika terjadi kegagalan, faktornya ada dimana. (ini kan tipe otak kiri dalam memutuskan. pakai logka). Ketika jatuh, akan diketahui sebab jatuh dan cara bangkitnya.
Satu lagi fakta, bahwa menjadi pengusaha itu harus terus-menerus belajar, mengikuti trend dalam rangka meng-update diri. Dengan demikian ia akan mengetahui adanya trens-trend baru dan jurus-jurus yang harus ditinggalkan dan menggantinyaa dengan jurus-jurus baru dalam menghadapi trend baru tersebut. Sebab kalo tidak demikian, maka sang pengusaha akan cepat usang, karena ketinggalan jurus. Ini juga bagian dari formula menjalankan bisnis.
Banyak Entrepreneur baru bermunculan. Ribuan jumlahnya. setahun kemudian mereka berguguran. Semakin tahun semakin bertambah yang berguguran. Menurut satu lembaga penelitian di Amerika, setiap 100 perusahaan yang lahir, hanya 4 yang mampu bertahan melewati 10 tahun pertama. dan itupun setelah melewati masa-masa sulit menuju formula kesuksesan. Formula inilah yang mengantarkan 4 perusahaan tersebut menjadi Sukses Betulan. Bukan serba Kebetulan.
Pertanyaannya, Sudahkan Sobatku sekalian menjadi pengusaha sukses ? Sukses Betulan atau Sukses Kebetulan ?
Bagi sobat yang merasa Sukses Kebetulan, silakan segera menata diri. Saya mengucapkan SELAMAT, meskipun Kebetulan, Anda sudah dikaruniai SUKSES. Pelajari unsur kesuksesan Anda...
Salam GreatLife !
Ingin menjadi teman saya?
Follow saya di twitter: @taufiqniq
Add saya di Facebook :www.facebook.com/Taufiq.NIQ



2 comments:
CARI ILMU SAMBIL INTERNETAN??? DENGERIN AJA SIARAN RADIO DI http://s1.myradiostream.com/12644/
Salam sukses ustad..
Post a Comment