Sobat, sengaja saya menggunakan satu kata yang sama, namun mewakili makna yang berbeda. Makanya saya menggunakan kata yang pertama tanpa tanda petik. Sedangkan yang kedua saya gunakan tanda petik.Yang pertama mewakili makna bahwa entrepreneur itu lahir karena faktor keturunan /pembawaan. Sedangkan makna yang kedua, mewakili makna bahwa entrepreneur itu lahir karena proses pendidikan, pembinaan dan pelatihan.
Anda percaya yang mana ? mana yang benar menurut Anda ? Entrepreneur itu lahir karena keturunan atau karena proses pendidikan, pembinaan dan pelatihan ?
Terus terang, beberapa hari yang lalu saya pergi silaturrahim ke Jakarta. Terjadilah diskusi ini. Seseorang meyakini bahwa seminar-seminar itu percuma, jika tidak ditindak lanjuti dengan action. Jadi yang penting ACTION. Proses pembelajaran itu tidak perlu melalui seminar-seminar dan atau sekolah-sekolah. Kata dia, pembelajaran itu akan otomatis terjadi jika seseorang melakukukan action, lalu terjadi kesalahan, lalu terjadi pembelajaran.
Tambahan pula --kata dia-- bahwa setiap orang itu mempunyai potensi sendiri-sendiri. Jadi tidak bisa dipaksakan --oleh seorang yang sukses sekaliber apapun-- kepada individu-individu yang mempunyai potensi unik. Kesuksesan Pak Heppy Trenggono tidak akan bisa dicopy, karena ia dikarunnia Allah sesuatu yang unik, sedangkan yang berusaha meng-copy juga mempunyai keunikan tersendiri. Begitu kata kawan diskusi saya tersebut...Diskusi berlangsung seru..!
Anda masih ingat seorang master Entrepreneur : Bob Sadino. Ia dikenal sebagai seorang yang sukses membangun perusahaan-perusahaan. Suatu ketika pak Bob diwawancarai oleh beberapa media mengatakan persis (atau senada) seperti kawan (lawan) diskusi saya tersebut di atas. Menurut pak Bob, untuk Sukses, nggak perlu melalui proses impian, seperti yang dikatakan oleh para coach terkenal dalam pelatihan-pelatihan entrepreneurship. Jalani saja.Action-action-action.
Sekali lagi, Anda mengikuti madzhab yang mana ? Anda meyakini yang mana ?Memang kita sepakat, bahwa untuk bisa dikatakan sukses, seseorang harus mempunyai sejumlah rekening di atas rata-rata manusia pada umumnya. Entah rekening finansial, rekening mental, rekening sosial bahkan rekening spiritual. Istilahnya pak Tung (atau yang dipopulerkan olehnya) : No Action, Nothing happened. Lihat artikel saya sebelumnya.
Semua rekening itu bertambah, karena faktor utamanya adalah tindakan.
Menurut Anda, bagaimana proses lahirnya sebuah tindakan itu ?
Menurut Anda, mengapa seseorang ada yang mau bekerja keras, sedangkan sebagian yang lain hanya bermimpi tanpa disusul oleh tindakan-tindakan ? (mimpi tinggi, tapi pemalas)?
Itu semua tidak lepas dari pembentuk kepribadian dalam diri seseorang.Mengapa dengan kejadian yang sama, namun sikap dan reaksi yang ditunjukkan oleh masing-masing orang, berbeda-beda / beragam ? Ini berbicara masalah perilaku manusia.
Menurut Anda, lebih efektif mana melakukan sesuatu didahului oleh ilmu atau tanpa ilmu ?Disinilah akar persoalan diskusi..!
Satu pihak mengatakan ilmu dulu baru bertindak. maka akan lahir tindakan yang bermutu. Tindakan yang berdaya ungkit.
Satu pihak lagi mengatakan bahwa bertindak, tidak harus menunggu ilmu. Karena bertindak malah akan melahirkan ilmu. Kegagalan-kegagalan akan melahirkan pengetahuan baru.
Mana yang benar ? Silakan Anda meyakini yang manapun ! Terserah..
Bagi saya, kedua-duanya benar. Namun tetap saja, harus menggunakan ilmu...terutama ilmu menakar kemampuan Anda untuk mampu menghadapi kegagalan.
Menggunakan madzhab kedua pun, harus menggunakan ilmu. Sebab jika tidak, maka kegagalan-kegagalan itu akan mengantarkannnya pada jurang kerugian dan kebangkrutan. Jika tidak tahu ilmunya mengendalikan resiko kegagalan, maka yang terjadi adalah gagal beneran. !!
Kita perlu inspirasi dari kesuksesan orang lain. Kita perku inspirasi dari kegagalan orang lain.Dan itu adalah ilmu. Anda boleh gagal, namun harus tahu 'ilmunya gagal'.
Saya sudah pernah gagal berkali-kali. Mulai yang kecil sampai yang besar. Mulai yang ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan, ratusan juta, bahkan milyaran rupiah. Dan itu karena kebodohan saya. Saya telah membayar pelajaran kegagalan itu dengan SPP yang sangat besar (mahal).
Hanya satu pelajaran sepele, saya pernah harus membayarnya 700 juta. Sedangkan pelajaran itu bisa saya sharingkan kepada peserta didik saya,tidak membutuhkan waktu lebih dari 1 jam.
Bagi saya, memang kita tidak harus menunggu ilmu terkumpul menjadi seorang master, untuk bisa melakukan sebuah tindakan atau banyak tindakan. Kita tetap saja boleh melakukan action-action kecil yang kita sudah tahu ilmunya. Dengan cara beginilah --menurut saya-- kesuksesan besar kita bangun dengan 'batu bata' kesuksesan-kesuksesan kecil. Dan itu semua dengan tindakan kecil yang sudah kita ketahui ilmunya. Yang belum tahu ilmunya, jangan. Jangan lakukan. Kecuali kita sudah menghitungnya. Mengkalkulasi akibat kegagalan yang mampu kita pikul.
Seiring dengan perjalanan waktu, kita teruus menambah ilmu-ilmu yang lebih besar, sehingga kita bisa melakukan tindakan besar.
Sobat, tulisan ini saya tutup dengan mengingatkan sebuah hadits Rasulullah Muhammad SAW. yang isinya :
"Semua manusia ini celaka,kecuali orang yang berilmu.
Semua orang yang berilmu celaka, kecuali orang yang beramal (action)
Semua manusia yang beramal celaka, kecuali oarng-orang yang ikhlas".
Jadi urutannya adalah : Ilmu-amal-ikhlas..!
Dan itu semua bersumber dari iman yang benar. Keimanan kepada hal yang benar-benar-BENAR.
ya, lebih baik punya ilmu sebelum bertindak. Dan lakukanlah tindakan setelah punya ilmunya. JIka belum punya ilmunya, tanyakan kepada para pakarnya. Anda bisa menuntut ilmu itu dengan cara menghadiri seminar, pelatihan dst.
Semoga kita terselamatkan dari fenomena, apa yang saya sebut dengan 'Kebangkrutan para pensiun', yang mencoba terjun menjadi entrepreneur, namun tidak disertai ilmu.
Salam GreatLife !
Ingin menjadi teman saya?
Follow saya di twitter: @taufiqniq
Add saya di Facebook :www.facebook.com/Taufiq.NIQ



0 comments:
Post a Comment