Ini adalah tulisan salah seorang teman di komunitas TDA, Adib Munajib. Menarik sekali untuk saya 'abadikan', agar menjadi salah satu inspirasi kita. Karenanya, saya copy and paste di Blog saya ini.... selamat menikmati..
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sejak kecil saya sudah dididik oleh orang tua agar lebih mengejar karya nyata dibanding banyak omong, jangan lihat kehebatan leluhurmu buktikan saja apa karya nyatamu.
Tak terasa dulu hampir 12 tahun saya pernah menjadi kuli ikut pengusaha sukses yang hampir tidak terkenal (malah nyaris no profile) tapi super kaya harta, tidak punya jaringan networking banyak namun hanya punya teman-2 dekat yang solid dan berkualitas, jika ada jumpa pers diserahkan sama anak buahnya.
Dan aku juga begitu kaget ketika membaca sebuah artikel ini satu tahun yang lalu, artikel tersebut mengatakan bahwa Orang-2 Terkaya RI Cenderung Tak Mau Muncul Ke Publik. http://finance.detik.com/read/2011/03/11/080118/1589227/4/orang-orang-terkaya-ri-cenderung-tak-mau-muncul-ke-publik?
Pola pikir yang ada dalam diri saya yang diajarkan oleh orang tua dan pengusaha sukses yang hampir no profile itu berubah sedikit demi sedikit ketika saya mengenal buku-2 dan seminar-2 yang bombastis menceritakan kehebatan dunia entrepreneurship dan marketing, kemudian saya mulai mengenal juga sosmed-2, komunitas-2 entrepreneurship, walaupun pada akhirnya saya tidak begitu aktif dalam komunitas-2 tersebut hanya sekedar rajin menjadi pembaca tulisan-2nya.
Dari dulu sering muncul pertanyaan ; benarkah para pembicara bisnis yang hebat itu memang kaya harta dan bisnisnya riil, benarkah pak Robert T. Kyosaki itu benar-2 kaya harta, apa beliau masuk dalam daftar orang-2 kaya di dunia ? demikian juga pembicara-2 hebat yang dari Indonesia ? ya jawabannya bisa saja beliau itu bisnisnya jadi pembicara yang harus populer karena harus menarik banyak orang, beda dengan bisnis yang personalnya tidak melibatkan banyak orang, personal brandingnya tidak terkenalpun bisnisnya tetap jalan.
Ngapain ya saya ngurusin hal ini, nanti malah jadi perdebatan yang nggak penting, namun saya tetap ingin menulis tulisan ini karena desakan kata hati. Jujur ada beberapa pengalaman tahun silam ketika saya masih sering keliling silaturrahmi ke teman-2 seantoro Jawa, ada banyak kisah evoria entrepreneurship ditanggapi dengan miris, ada yang sudah bergaji Rp. 15 jt per bulan terprovokasi resign namun setelah resign tidak bisa berbuat apa-2, ada yang kabur terbelit hutang milyaran dan yang paling membuat dada saya sesak adalah ada teman yang hebat dalam menulis blog dan pencitraan diri namun ketika diajak bertemu susah sekali sampai akhirnya saya memaksa dan sesuai dugaanku usahanya belum apa-2 baru berbentuk mimpi tapi sudah digembar-gemborkan.
Malah ada kejadian yang saya tetap mampir ke rumahnya namun orangnya nggak ada sehingga saya tahu persis kondisi rumahnya dan dia masih nebeng dot kom ke orang tuanya. Masih level starting bahkan merintis namun sudah mencantumkan dikartu namanya sebagai CEO atau Presdir, setahu saya bukankah CEO atau Presdir itu jabatan formal ya untuk perusahaan yang sudah berbentuk badan hukum, bukan jabatan mainan, tapi ya terserahlah sekarepmu dewe. Sebab saya tahu sendiri waktu ikut kelas entrepreneur memang diajarkan begitu oleh sang mentor yang juga belum tentu bisnisnya besar atau jalan.
Ada yang aneh tetanggaku nyalon jadi anggota DPRD, dalam poster pencitraannya ditulis direktur, wong usaha kecil-2an punya orang tuanya kok diaku-aku jadi direktur, dia sendiri usahanya tutup mulu nggak ada yang jalan, bahkan terakhir ngajuin hutang ke saya dengan kata-2nya yang canggih, kan konyol.
Sekali lagi mohon maaf tulisan ini hanya refleksi saja melihat "sisi lain" dari evoria entrepreneurship dan marketing bombastis. Tulisan ini bentuk peperangan dalam diri saya selama ini, karena sudah biasa diajarkan hidup apa adanya, lalu berubah setelah tahu konsep personal branding (pencitraan) dan sekarang peperangan hampir berakhir karena saya lebih memilih menjalani hidup apa adanya saja dan saya lebih memilih marketing yang tidak bombastis balik lagi seperti awal.
Sudah aku coba, aku tidak nyaman dangan popularitas dan show up, aku lebih nyaman menjadi sutradara dan pengatur dibalik layar. Aku menggerakan team dengan mendorong dari belakang bukan menarik dari depan, kepuasanku bukan popularitas tapi menjadi sutradara yang tidak pernah pentas.
Sebagai pribadi introvert atau extravert sudah tidak penting lagi, yang jelas memilih mengikuti passion jauh lebih enak dibanding menjadi orang dalam pencitraan yang jauh dari kualitas dirinya. Yang cocok dengan pencitraan ya silahkan, yang suka bombastis ya silahkan dan yang suka dengan popularitas ya silahkan. Dan kaya yang dimaksud disini adalah kaya harta jadi mohon jangan dikait-kaitkan dengan kaya hati, beda akar pembahasannya.
Terakhir, tenang saja saat saya sering bersilaturrahmi ke beberapa teman bisnisnya memang riil dan jalan dan saya minta maaf kata-2 no profile but high profit hanya plesetan dari low profile but high profit, jadi rada maksa kata-katanya. Mohon maaf apabila ada kesalahan.
Salam SuksesMulia,
Tak terasa dulu hampir 12 tahun saya pernah menjadi kuli ikut pengusaha sukses yang hampir tidak terkenal (malah nyaris no profile) tapi super kaya harta, tidak punya jaringan networking banyak namun hanya punya teman-2 dekat yang solid dan berkualitas, jika ada jumpa pers diserahkan sama anak buahnya.
Dan aku juga begitu kaget ketika membaca sebuah artikel ini satu tahun yang lalu, artikel tersebut mengatakan bahwa Orang-2 Terkaya RI Cenderung Tak Mau Muncul Ke Publik. http://finance.detik.com/read/2011/03/11/080118/1589227/4/orang-orang-terkaya-ri-cenderung-tak-mau-muncul-ke-publik?
Pola pikir yang ada dalam diri saya yang diajarkan oleh orang tua dan pengusaha sukses yang hampir no profile itu berubah sedikit demi sedikit ketika saya mengenal buku-2 dan seminar-2 yang bombastis menceritakan kehebatan dunia entrepreneurship dan marketing, kemudian saya mulai mengenal juga sosmed-2, komunitas-2 entrepreneurship, walaupun pada akhirnya saya tidak begitu aktif dalam komunitas-2 tersebut hanya sekedar rajin menjadi pembaca tulisan-2nya.
Dari dulu sering muncul pertanyaan ; benarkah para pembicara bisnis yang hebat itu memang kaya harta dan bisnisnya riil, benarkah pak Robert T. Kyosaki itu benar-2 kaya harta, apa beliau masuk dalam daftar orang-2 kaya di dunia ? demikian juga pembicara-2 hebat yang dari Indonesia ? ya jawabannya bisa saja beliau itu bisnisnya jadi pembicara yang harus populer karena harus menarik banyak orang, beda dengan bisnis yang personalnya tidak melibatkan banyak orang, personal brandingnya tidak terkenalpun bisnisnya tetap jalan.
Ngapain ya saya ngurusin hal ini, nanti malah jadi perdebatan yang nggak penting, namun saya tetap ingin menulis tulisan ini karena desakan kata hati. Jujur ada beberapa pengalaman tahun silam ketika saya masih sering keliling silaturrahmi ke teman-2 seantoro Jawa, ada banyak kisah evoria entrepreneurship ditanggapi dengan miris, ada yang sudah bergaji Rp. 15 jt per bulan terprovokasi resign namun setelah resign tidak bisa berbuat apa-2, ada yang kabur terbelit hutang milyaran dan yang paling membuat dada saya sesak adalah ada teman yang hebat dalam menulis blog dan pencitraan diri namun ketika diajak bertemu susah sekali sampai akhirnya saya memaksa dan sesuai dugaanku usahanya belum apa-2 baru berbentuk mimpi tapi sudah digembar-gemborkan.
Malah ada kejadian yang saya tetap mampir ke rumahnya namun orangnya nggak ada sehingga saya tahu persis kondisi rumahnya dan dia masih nebeng dot kom ke orang tuanya. Masih level starting bahkan merintis namun sudah mencantumkan dikartu namanya sebagai CEO atau Presdir, setahu saya bukankah CEO atau Presdir itu jabatan formal ya untuk perusahaan yang sudah berbentuk badan hukum, bukan jabatan mainan, tapi ya terserahlah sekarepmu dewe. Sebab saya tahu sendiri waktu ikut kelas entrepreneur memang diajarkan begitu oleh sang mentor yang juga belum tentu bisnisnya besar atau jalan.
Ada yang aneh tetanggaku nyalon jadi anggota DPRD, dalam poster pencitraannya ditulis direktur, wong usaha kecil-2an punya orang tuanya kok diaku-aku jadi direktur, dia sendiri usahanya tutup mulu nggak ada yang jalan, bahkan terakhir ngajuin hutang ke saya dengan kata-2nya yang canggih, kan konyol.
Sekali lagi mohon maaf tulisan ini hanya refleksi saja melihat "sisi lain" dari evoria entrepreneurship dan marketing bombastis. Tulisan ini bentuk peperangan dalam diri saya selama ini, karena sudah biasa diajarkan hidup apa adanya, lalu berubah setelah tahu konsep personal branding (pencitraan) dan sekarang peperangan hampir berakhir karena saya lebih memilih menjalani hidup apa adanya saja dan saya lebih memilih marketing yang tidak bombastis balik lagi seperti awal.
Sudah aku coba, aku tidak nyaman dangan popularitas dan show up, aku lebih nyaman menjadi sutradara dan pengatur dibalik layar. Aku menggerakan team dengan mendorong dari belakang bukan menarik dari depan, kepuasanku bukan popularitas tapi menjadi sutradara yang tidak pernah pentas.
Sebagai pribadi introvert atau extravert sudah tidak penting lagi, yang jelas memilih mengikuti passion jauh lebih enak dibanding menjadi orang dalam pencitraan yang jauh dari kualitas dirinya. Yang cocok dengan pencitraan ya silahkan, yang suka bombastis ya silahkan dan yang suka dengan popularitas ya silahkan. Dan kaya yang dimaksud disini adalah kaya harta jadi mohon jangan dikait-kaitkan dengan kaya hati, beda akar pembahasannya.
Terakhir, tenang saja saat saya sering bersilaturrahmi ke beberapa teman bisnisnya memang riil dan jalan dan saya minta maaf kata-2 no profile but high profit hanya plesetan dari low profile but high profit, jadi rada maksa kata-katanya. Mohon maaf apabila ada kesalahan.
Salam SuksesMulia,
,_._,___
-->



0 comments:
Post a Comment