Sunday, 6 November 2011

To Be Entrepreneur

Tahun 1988, saya masuk sebuah perguruan tinggi. Biasa, saya mulai membangun teman dengan banyak orang. Ada yang sesama mahasiswa, ada juga yang pedagang dan masih banyak lagi. Yang ingin saya ceritakan di sini adalah teman baru saya, seorang penjual makanan dan minuman es kacang ijo. Dia berjualan di wilayah kampus dan daerah sekitar kampus. Berangkat pagi dan pulang malam, menggunakan gerobak dorong. Dia biasa mangkal di beberapa tempat yang rame dikunjungi mahasiswa seperti masjid, gelanggang mahasiswa dan beberapa tempat lainnya.
Suatu ketika, tanpa mimik serius saya bertanya kepadanya “Kang, berapa penghasilan sampeyan perharinya ?” Dia menyebut angka yang cukup lumayan besar waktu itu.
Tanpa mengurangi rasa hormat pada teman saya tersebut, saya ingin mengungkapkan sesuatu kepada Anda. Ketika saya lulus sarjana, saya berpisah dengannya. Bertahun-tahun tidak pernah bertemu. 15 tahun kemudian saya ketemu dengan dia tanpa sengaja. Ternyata ia masih ‘istiqomah’ menjadi penjual es kacang ijo. Berkeliling kampus dan tetap mendorong gerobaknya. Pertemuan itu memberi kesan pertanyaan yang terus mengusik pikiran saya. “Mengapa dia tetap saja mendorong gerobaknya ? Bukankah semestinya ia sudah bisa mengembangkan usahanya dan menjadi pengusaha besar es kacang ijo ?”. Pertanyaan itu tetap saya simpan dalam hati dan akhirnya terungkap dalam tulisan ini.
Sementara itu, pernahkah Anda mendengar kisah sukses seorang penjual makanan soto Lamongan ? Ia bermula dari memikul jualannya. Beberapa waktu kemudian ia telah mendorong gerobak. Ternyata ia terus maju, dengan menjual sotonya di sebuah stand. Belakangan, ia telah mempunyai puluhan stand yang tersebar di kota-kota besar yang menghasilkan pendapatan bersih ratusan juta perbulan.
Kisah lain dengan kasus yang berbeda, adalah kisah orang tua mahasiswi saya. Saya mempunyai seorang mahasiswi. Dilihat dari penampilannya, orang mengira pastilah ia anak orang berada. Memang benar, ayahnya bekerja di sebuah perusahaan BUMN, dengan posisi yang lumayan. Sampai beberapa semester, SPPnya lancar-lancar saja. Tiba-tiba di semester ke 6, ia datang sambil menangis ketika ia tidak mampu membayar SPP. Intinya, ia tidak mampu melanjutkan kuliah. Benar, akhirnya ia tidak melanjutkan kuliah, alias putus tengah jalan. Usut punya usut, ternyata ayahnya tidak mampu lagi membiayainya kuliah. Ternyata, ayahnya telah memutuskan untuk meminta pensiun dini dari kantor krejanya dan mendapat pesangon yang lumayan besar. Ayahnya memilih pensiun dini dengan asumsi bahwa ia akan membuka usaha. Seluruh uang pesangonnya digunakan untuk ‘bermain’ usaha. Apa yang terjadi ? ayahnya telah melakukan usaha, tetapi dirinya masih ‘menjadi’ karyawan. Dalam waktu tidak sampai setahun, uangnya ludes, dan bangkrutlah ia.
Sebenarnya masih banyak kisah-kisah serupa dua contoh di atas. Berpuluh-puluh tahun seseorang menekuni sebuah bidang usaha, namun tidak juga beranjak maju secara finansial. Sebaliknya terdapat banyak orang yang terus melangkah maju, meskipun sepanjang perjalanannya didera tidak sedikit kegagalan.
Pertanyaannya : Apa arti fenomena seperti itu ? Apa ada hikmah pelajaran yang bisa ditarik dari dua kisah tersebut ?
Pembaca, setelah saya terus mempelajari bidang yang saya geluti bertahun-tahun yaitu sebagai seorang entrepreneur dan sekaligus dosen entrepreneurship, akhirnya saya bisa mengungkap sangat banyak sekali pelajaran berawal dari pertanyaan tersebut.
Tulisan ini menyajikan kepada Anda sebagian jawaban yang saya temukan dan akhirnya saya kumpulkan dan saya ajarkan di kampus saya tercinta STIS SBI Surabaya. Tulisan ini menjadi keyakinan saya untuk bertindak sesuai dengan  keyakinan-keyakinan  yang telah saya temukan tersebut. Semoga buku ini bermanfaat dengan menginspirasi Anda...

Salam GreatLife !
Ingin menjadi teman saya?
Follow saya di twitter: @taufiqniq
Add saya di Facebook :www.facebook.com/Taufiq.NIQ

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More